Nilai tukar rupiah menembus level Rp18.012 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2026), melemah 47 poin atau 0,26% dari penutupan sebelumnya di Rp17.965.
Pelemahan ini penting dicermati karena rupiah kini melampaui batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Dalam satu tahun terakhir, mata uang Garuda sudah terdepresiasi 7,45% terhadap dolar AS, dan dalam lima tahun anjlok 20,65%.
Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari
Berdasarkan data Investing.com yang dihimpun pukul 10:48 WIB, rupiah berada di posisi Rp18.012 per dolar AS. Sepanjang hari itu, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.970 hingga Rp18.031. Level Rp18.012 berada 19 poin di bawah titik tertinggi dan 42 poin di atas titik terendah perdagangan.
Sementara menurut data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan tipis 0,03% ke posisi Rp17.970 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada Senin (28/9/2026), ketika rupiah terdepresiasi 0,48% dan ditutup di level Rp17.965 per dolar AS.
Tekanan Berlangsung dalam Berbagai Periode
Data Investing.com menunjukkan rupiah melemah secara konsisten dalam berbagai rentang waktu. Dalam satu hari, rupiah turun 0,05%. Dalam satu minggu turun 0,87%, dan dalam satu bulan turun 1,79%.
Untuk periode tiga bulan, pelemahan tercatat 0,95%. Dalam enam bulan, rupiah sudah turun 5,81% terhadap dolar AS.
Dolar AS Masih Menguat di Pasar Global
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,209 pada pukul 09.00 WIB. Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan DXY sebesar 0,22% pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah dolar AS yang masih bergerak kuat di pasar global. Kondisi ini mendorong Bank Indonesia mengambil langkah stabilisasi melalui beberapa instrumen sekaligus.
BI Geser Strategi Intervensi ke DNDF dan NDF
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI melakukan stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).
Namun, BI kini mengurangi porsi intervensi melalui pasar spot karena transaksi tersebut dilakukan dengan menjual dolar secara langsung, sehingga dapat menggerus cadangan devisa. Porsi intervensi spot saat ini hanya sekitar 30% dari keseluruhan intervensi BI.
"Jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan. Intervensi ada di DNDF, NDF, dan spot," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Sebelumnya, intervensi BI lebih banyak dilakukan melalui pasar spot. Pengembangan pasar DNDF dan NDF membuat kedua instrumen tersebut kini dinilai lebih efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah tanpa terlalu membebani cadangan devisa.
Masalah Struktural Butuh Koordinasi Pemerintah
Destry mengakui tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari pergerakan pasar keuangan. Terdapat persoalan fundamental dan struktural yang memerlukan koordinasi dengan pemerintah, terutama melalui Kementerian Keuangan dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Oleh karena itu, stabilisasi rupiah perlu dibarengi dengan penguatan ekspor barang dan jasa serta peningkatan investasi. Langkah ini diperlukan untuk memperbesar pasokan valuta asing di dalam negeri.
BI bersama pemerintah terus membahas berbagai program untuk meningkatkan ekspor dan menarik investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya tekanan dari dolar AS.